NIAT
Setiap yang kita jalani pastilah kita ingin menjalaninya dengan benar dan menghasilkan sesuatu yang baik dan menciptakan kebahagiaan. Untuk itu marilah selalu kita untuk memperbaiki niat kita, menjaganya agar setiap yang kita lakukan takkan bernilai sia-sia.
Niat itu berarti amalan kita, kesungguhan kita dalam menjalankan sesuatu hal baik di masyarakat, ditempat kerja ataupun dirumah bersama keluarga. Bagaimana kita menjaga hati kita agar selalu berniat untuk melakukan sesuatu karena ALLAH ﷻ sehingga kita dapat terjaga dari kekecewaan dalam menjalani kehidupan dunia ini, dan bagaimana kita menjaga lisan kita agar kita tidak berkata yang sia-sia, seperti membicarakan keburukan orang lain, bahkan sampai mengeluh pada manusia, yang semua tidak pada tempatnya, sehingga kita jauh dari perlindungan ALLAH ﷻ (Mengeluhlah hanya kepada ALLAH ﷻ semata).
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18).
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika hari Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187)
Dalam hadits Al Husain bin ‘Ali disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat” (HR. Ahmad 1: 201. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-).
Kemudian bagaimana kita menjaga perbuatan kita agar menjadi contoh yang benar bukan baik namun melalaikan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya ada setitik kesombongan.” Lalu ada seorang laki-laki bertanya pada beliau, “Sesungguhnya manusia itu menyukai baju yang indah dan sandal yang bagus.” Lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Semoga kita dapat terhindar dari perbuatan yang menyombongkan diri, yang menghalalkan segala cara untuk membenarkan diri, dan jangan sampai kita meremehkan orang lain. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
La haula wa la kuwawata illa billah
"Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah ﷻ ."
https://benarpastibaik.blogspot.com/2022/10/niat.html
Komentar
Posting Komentar